Ramadhan
Sempat
terbesit ide cerdas di kepalaku yang bunyinya “Andai saja nama-ku Pandi
Al-Gapin Ramadhan Ahmat”. Hahahahaha. Betapa kerennya itu kan. Pandi artinya
Ksatria, Al artinya alias, Gapin artinya Gagah dan Pintar, Ramadhan itu Suci
dan Ahmat itu Muhammad. SUBHANALLAH… MACAMMMM SEKKEEE ARANNU See’ kalau kata
orang-orang bajao… hahahahahaha. Hidup Bajao Ma’ Pa’.
Tapi,
bukan itu sih yang mau ku kasih tahu (dibaca: sampaikan) ke teman-teman. Kali
ini aku akan coba sedikit bercerita tentang “Nggak Enaknya Ramadhan di Kampung
Orang”.
“Nggak Enaknya Ramadhan di Kampung
Orang”
Teman,
tak terasa sudah 1 tahun lebih aku hidup di Yogyakarta. Banyak kejadian serta
peristiwa yang tak terduga selama aku hidup di Yogya, mulai dari Ospek Kampus,
Ospek Asrama, kursus, dapat teman tapi banyak, naik gunung, kelahi argumen sama
dosen serta yang paling tak terduga dan tragis adalah aku JOMBLO cess di Yogya,
setahun lagi. *Ndak Penting-Balik Ke Topik
Tak
terasa Bulan Suci Ramadhan tinggal 1 hari lagi. Sekali lagi, aku menjalani
suci-nya Ramadhan di kampong orang. Hasil sidang Isbat pemerintah Indonesia
tadi malam, Jum’at, 27 Juni 2014 menyimpulkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1435
Hijriyah jatuh pada Minggu, 29 Juni 2014. Alhamdulillah dan Subhanallah-nya
tahun ini 2 Ormas Islam terbesar di Indonesia mengawali puasa Ramadhan di hari
yang berbeda, namun hal itu tak mengapa, yang penting pada akhirnya nanti, pas
pada saat hari kemenangan Idul Fitri – 1 Syawal (dibaca : Lebaran) esok kita
meraih dan menggapainya dengan bahagia, penuh suka cita dan cinta bersama-sama.
Namun
masalahnya adalah sekali lagi dan lagi teman…, aku mengawali sucinya Ramadhan
ini dengan tidak bersama kedua orang tua ku serta sanak family tercinta.
Lagi-lagi mengawali Ramadhan di kampong orang, enak memang namun enggak enaknya
lebih banyak teman, ketimbang enaknya.
Sekarang
baru aku sadar betapa pentingnya jarak itu, meskipun aku laki-laki yang pantang
bersedih apalagi menangis. Berat rasanya menyembunyikan rasa rindu ini kepada
mereka. Berat rasanya untuk berpura-pura tidak menyadari betapa sulitnya
menjalani kerasnya hidup jika tidak bersama mereka (dibaca : Bapa’ Mama’ku).
Aku hampir putus asa dengan ini, namun aku selalu mengingat pesan mereka yang
aku dapat ketika kami menonton sinema “Tukang Bubur Naik Haji”. Kata mereka “All
is Well” Bii… semuanya pasti baik-baik saja (dibaca: Mama nggak kenapa-napa kok
kalau kamu tinggal), Mama hanya berpesan “Say Istigfar if you got problem,
moreover mendapatkan kesuksesan… jangan lupa istigfar Bii”.
Ya
sudahlah, kalau aku lanjutin nulis ini tulisan aku takut sahur pertama nanti
ketelatan, mending aku istigfar aja sudah…
Meskipun
Enggak Enaknya Ramadhan di Kampung Orang, lebih nggak enak lagi nggak Ramadhan
di kampong orang… pikirkan! Hahahahaha
Terima
kasih telah membaca tulisan ku ini. Tinggalkan komen, karena ada pepatah
mengatakan “Tak Komen maka Tak Sayang”. HAHAHAHA
Sincerely,
Pandi
Al-Gapin Ramadhan Ahmat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar