.

.

Sabtu, 28 Juni 2014

Enggak Enaknya Ramadhan di Kampung Orang?!



Ramadhan
Sempat terbesit ide cerdas di kepalaku yang bunyinya “Andai saja nama-ku Pandi Al-Gapin Ramadhan Ahmat”. Hahahahaha. Betapa kerennya itu kan. Pandi artinya Ksatria, Al artinya alias, Gapin artinya Gagah dan Pintar, Ramadhan itu Suci dan Ahmat itu Muhammad. SUBHANALLAH… MACAMMMM SEKKEEE ARANNU See’ kalau kata orang-orang bajao… hahahahahaha. Hidup Bajao Ma’ Pa’.

Tapi, bukan itu sih yang mau ku kasih tahu (dibaca: sampaikan) ke teman-teman. Kali ini aku akan coba sedikit bercerita tentang “Nggak Enaknya Ramadhan di Kampung Orang”.

 “Nggak Enaknya Ramadhan di Kampung Orang”

Teman, tak terasa sudah 1 tahun lebih aku hidup di Yogyakarta. Banyak kejadian serta peristiwa yang tak terduga selama aku hidup di Yogya, mulai dari Ospek Kampus, Ospek Asrama, kursus, dapat teman tapi banyak, naik gunung, kelahi argumen sama dosen serta yang paling tak terduga dan tragis adalah aku JOMBLO cess di Yogya, setahun lagi. *Ndak Penting-Balik Ke Topik

Tak terasa Bulan Suci Ramadhan tinggal 1 hari lagi. Sekali lagi, aku menjalani suci-nya Ramadhan di kampong orang. Hasil sidang Isbat pemerintah Indonesia tadi malam, Jum’at, 27 Juni 2014 menyimpulkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1435 Hijriyah jatuh pada Minggu, 29 Juni 2014. Alhamdulillah dan Subhanallah-nya tahun ini 2 Ormas Islam terbesar di Indonesia mengawali puasa Ramadhan di hari yang berbeda, namun hal itu tak mengapa, yang penting pada akhirnya nanti, pas pada saat hari kemenangan Idul Fitri – 1 Syawal (dibaca : Lebaran) esok kita meraih dan menggapainya dengan bahagia, penuh suka cita dan cinta bersama-sama.

Namun masalahnya adalah sekali lagi dan lagi teman…, aku mengawali sucinya Ramadhan ini dengan tidak bersama kedua orang tua ku serta sanak family tercinta. Lagi-lagi mengawali Ramadhan di kampong orang, enak memang namun enggak enaknya lebih banyak teman, ketimbang enaknya.
Sekarang baru aku sadar betapa pentingnya jarak itu, meskipun aku laki-laki yang pantang bersedih apalagi menangis. Berat rasanya menyembunyikan rasa rindu ini kepada mereka. Berat rasanya untuk berpura-pura tidak menyadari betapa sulitnya menjalani kerasnya hidup jika tidak bersama mereka (dibaca : Bapa’ Mama’ku). Aku hampir putus asa dengan ini, namun aku selalu mengingat pesan mereka yang aku dapat ketika kami menonton sinema “Tukang Bubur Naik Haji”. Kata mereka “All is Well” Bii… semuanya pasti baik-baik saja (dibaca: Mama nggak kenapa-napa kok kalau kamu tinggal), Mama hanya berpesan “Say Istigfar if you got problem, moreover mendapatkan kesuksesan… jangan lupa istigfar Bii”.

Ya sudahlah, kalau aku lanjutin nulis ini tulisan aku takut sahur pertama nanti ketelatan, mending aku istigfar aja sudah…

Meskipun Enggak Enaknya Ramadhan di Kampung Orang, lebih nggak enak lagi nggak Ramadhan di kampong orang… pikirkan! Hahahahaha

Terima kasih telah membaca tulisan ku ini. Tinggalkan komen, karena ada pepatah mengatakan “Tak Komen maka Tak Sayang”. HAHAHAHA

Sincerely,


Pandi Al-Gapin Ramadhan Ahmat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar